Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2021

Sentra Wisata Kuliner DELES

Sentra Wisata Kuliner DELES

 


Sentra Wisata Kuliner DELES Kelurahan Klampis Ngasem Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya merupakan sarana berburu kuliner yang cukup di gandrungi dari segala usia selain itu tempatnya yang bersih membuat pengunjung merasa nyaman. Dengan beragam fasilitas seperti Parkir Luas, Live Musik, MUsholla, Free Wi Fi, Toilet, Gazebo nyaman dan Sarana Olah Raga. Dengan Harga Murah dan Terjangkau.

Kamis, 30 April 2015

Dilarang Kreatif

Dilarang Kreatif

Produksi Televisi dari Monitor Bekas, Pria Lulusan SD Dibekuk Polisi


Semarang - Meski hanya pernah mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar, MK (41) warga Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah ternyata handal di bidang elektronik. Namun kehandalannya membuat ia harus berurusan dengan polisi karena memproduksi televisi dari barang bekas dan menjual bebas tanpa izin.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol A Liliek Darmanto mengatakan MK ditangkap karena melanggar pasal 120 juncto pasal 53 ayat 1 huruf b Undang-undang RI No 3 tahun 2014 tentang perindustrian karena memproduksi dan mengedarkan barang tidak memenuhi SNI, spesifikasi, dan pedoman tata cara yang diberlakukan secara wajib di bidang industri. Ancaman pidananya 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 3 milyar.

"Adapun pasal 106 Undang-undang RI No 7 tahun 2014 tentang perdagangan karena tidak memiliki izin dan juga melanggar pasal 62 ayat 1 juncto pasal 8 ayat 1 undang-undang RI no.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen," kata Liliek di kantor Dit Reskrimsus Polda Jateng, Jalan Sukun Raya, Semarang, Selasa (17/3/2015).

Di rumah tersangka, lanjut Liliek, MK membuka usaha reparasi "Haris Elektronik", namun di dalamnya juga untuk memproduksi televisi yang tabung layarnya berasal dari monitor komputer yang tidak terpakai. Tidak tanggung-tanggung, satu hari tersangka dan 8 karyawannya mampu memproduksi 30 sampai 40 unit televisi.

"Satu hari keuntungannya Rp 450 ribu dan satu bulan bisa mencapai Rp 11,7 juta," pungkas Liliek.

Televisi yang diproduksi MK berjenis tabung dengan ukuran 14 inch sampai 17 inch. Ia memperoleh tabung dari pengepul barang bekas elektronik. Kemudian MK membeli casing dan remote yang banyak dijual di pasaran lalu untuk kemasan ia memesan kardus sesuai merek.

"Dia tidak pakai merk terkenal tapi membuat sendiri seperti Veloz, Maxreen, Zener, dan Vitron," pungkas Liliek.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Djoko Purbohadijoyo menambahkan tersangka sudah dua tahun menjalankan usahanya itu. Awalnya ia menitipkan di toko-toko elektronik, namun kini ia menunggu order dari toko elektronik.

"Dua tahun lalu dia memasarkan ke toko-toko, belakangan, toko-toko yang pesan. Kalau order banyak dia merakit banyak. Keuntungan tidak lebih dari Rp 100 ribu satu televisi, modal satu televisi antara Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu, tabung bekasnya itu beli antara Rp 50 ribu," kata Djoko.

"Dia lulusan SD, semua dipelajari otodidak," imbuhnya.

Dari rumah tersangka, polisi menyita 146 televisi, 1.020 tabung televisi, 525 casing televisi, 15 televisi rusak, kardus, mesin bor, tiner, dan berbagai perangkat lainnya untuk merakit televisi.

"Terhadap tersangka tidak dilakukan penahanan, karyawannya saksi," tegas Djoko.

sumber : detiknews

Kamis, 10 April 2014

Bekas Kaleng Rokok Jadi "Emas"

Bekas Kaleng Rokok Jadi "Emas"



Dulu Himawan Suripto harus bangga dengan hasil bisnis sebagai pemilik counter handphone. Sekarang, pria asal Klampisngasem, Sukolilo ini puas menyulap kaleng bekas rokok menjadi miniatur motor gede (moge) senilai emas 1 gram.
Niat awal Himawan ini hanya ingin meracik mainan sederhana untuk cucu laki-lakinya. Namun setelah mengalami beberapa trial and error, pria 55 tahun ini berhasil merakit miniatur motor gede (moge) dengan harga produksi Rp 25 ribu per unit.

"Awalnya saya nggak tahu bagaimana bentuk moge itu. Setelah mendapat kritik dari tetangga, teman dan orang-orang sekitar, saya mulai mencontoh bentuk roda, stang, dan tangki moge yang sering muncul di tayangan televisi," kata Himawan Suripto saat berbincang dengan wartawan di acara pameran produk UMKM di salah satu mal, Surabaya, baru-baru ini.



Pertama-tama, Himawan merangkai rangka moge dari kabel antena TV yang dililit dan dirangkai mirip rangka moge. Kemudian, dia mulai menggunting dan membentuk bagian-bagian seperti stang, sadel, knalpot ,dan tangki motor. "Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk membentuk tangki. Karena bahan kaleng rokok ini susah ditekuk. Kalau dipaksa, bisa penyok," tutur dia.

Jadi produk miniatur moge milik Himawan ini memiliki bentuk tangki agak lonjong dibanding bentuk tangki moge sebenarnya. Tapi hal ini bukanlah menjadi masalah. Tetap saja karya seni Himawan laris manis. "Satu bulan, setidaknya ada 25 unit miniatur moge yang terjual. Harga per unit miniatur moge paling murah Rp 200 ribu," aku Himawan.

Himawan membutuhkan 10 kaleng rokok (yang dihargai @Rp 200) untuk meracik sebuah miniatur moge yang ia dapat dari pedagang kaki lima. Maka dalam kurun waktu dua hari, jadilah miniatur moge yang layak jual.

Tak hanya itu, Himawan saat ini juga dipercaya sebagai supplier di salah satu toko aksesoris franchise di Surabaya dan mengikuti pameran UMKM di mal-mal besar yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Per unit, harga miniatur moge Himawan dihargai mulai Rp 475 ribu hingga Rp 550 ribu tanpa bisa ditawar. Himawan mengaku sangat bersyukur atas keberhasilan serta dukungan Kelompok Informasi Masyarakat dan instansi terkait di Kota Surabaya terhadap usaha yang dijalankan saat ini. (dtf)


Kamis, 06 Februari 2014

Kolam ikan serasa kolam susu

Kolam ikan serasa kolam susu


Mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan adalah suatu anegerah, dari yang cuma sekedar hobi mancing dan tak punya penghasilan tetap kini bisa mendapatkan penghasilan yang bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ikan Gurame, Ikan Lele, Ikan Patin yang siap dipanen dan dikirim kebeberapa restoran sea food besar di Kota Surabaya ini  telah berhasil dibudidayakan oleh Pak SaKur warga Deles-Klampisngasem.
Dari kunjungan Bapak Lurah Klampisngasem beberapa waktu yang lalu untuk meninjau langsung kolam ikan itu membuat warga binaannya tersebut makin semangat untuk berbuat lebih luas lagi.
Beliau (Pak Lurah) menyarankan agar lebih banyak lagi warga yang diajak untuk bersama-sama mengurus pengelolaan kolam ikan tersebut khususnya warga sekitar yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dengan demikian bisa mengurangi angka pengangguran diwilayah Sukolilo ....


Minggu, 12 Januari 2014

Kain biasa menjadi luar biasa

Kain biasa menjadi luar biasa


Berawal dari sisa-sisa potongan kain yang tak terpakai, Ibu Zulfan yang beralamatkan di Klampis Semalang ini berhasil membuat berbagai macam baju santai, baju tidur dan sarung bantal setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh BAPEMAS di Kelurahan Klampisngasem.
Setelah beberapa kali mengikuti pameran UKM yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya, Ibu Zulfan berhasil mendapatkan banyak pesanan baik dari dalam kota maupun luar kota hingga Ibu Zulfan harus rela berbagi rezeki dengan ibu-ibu tetangga kanan kirinya untuk bersama-sama menjalankan usaha tersebut.
Selain dari apa yang sudah dibuat ataupun diproduksi oleh Ibu Zuilfan dan rekan-rekannya, mereka bermaksud mengembangkan untuk lebih banyak lagi ragam barangnya.
Hingga akhirnya usaha tersebut diberi nama UKM Flamboyan

Rabu, 14 Agustus 2013

Tak ada rotan "AKAR"pun jadi

Tak ada rotan "AKAR"pun jadi

Ditangan kreatif  Bpk. Agus yang beralamatkan di Deles Klampisngasem Sukolilo Surabaya ini, akar pohon yang sudah mati dan tidak burguna ini dapat dijadikan sebuah karya seni berupa patung kayu yang menyerupai beragam mahluk hidup dan lain-lain.
Elang/Garuda

Dengan pembinaan serta turut dalam beragam kegiatan pameran UKM, hasil karya Pak Agus ini memiliki nilai jual serta banyak peminat untuk dapat memiliki sebagai pajangan ataupun lainnya.
  Angsa/Bebek
Manusia Purba
Ular Naga
Burung Murai

Semoga bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk dapat berkarya dan menjadi berguna bagi nusa bangsa dan negara .... 

Minggu, 11 Agustus 2013

Campur Sari "Pethuk Roso"

Campur Sari "Pethuk Roso"


Sekretariat :
Jl. Mleto I/26-N Surabaya, Telp. 031-71917031 / 031-60900586

----------------------------------------------------
Izin Dinas Kebudayaan & Pariwisata :
No. Induk Kesenian 503/3250/436.6.14/2010
----------------------------------------------------

Pada tanggal 9 Desember 2009 ada rasa senang dan bangga sekali sebagai warga Mleto karena diwilayah ini telah didirikan sebuah Paguyuban Seni Tradisional Campur Sari yang di beri nama "Pethuk Roso" yang berarti bertemunya sebuah rasa ( Pethuk = bertemu / berjumpa , Roso = rasa ).
Beberapa orang yang mempunyai jiwa seni telah bertemu hingga munculah sebuah rasa  ingin melestarikan kebudayaan nenek moyang terhadap alat musik "Gamelan" yang hampir sirna di himpit oleh aneka jenis musik modern bahkan telah marak di negeri tercinta ini aliran musik dari manca negara yakni HipHop, R&B, Break Dance, Rap, House Music dan masih banyak lagi yang lainnya.
Beberapa orang tersebut sangat menyayangkan dan mengkhawatirkan terhadap generasi muda kalau-kalau nantinya mereka tidak mengenal bahkan tidak lagi mencintai seni tradisional yang telah dimiliki bangsa ini,.
Dengan do'a dan usaha yang keras beberapa orang tersebut bahu-membahu tanpa kenal rasa lelah dan putus asa bertekad untuk melestarikan seni budaya tradisional "Campur Sari" dengan alat musik "Gamelan" dan sedikit polesan alat musik modern Guitar, Keyboard dan Drum hingga terbentuklah Campur Sari Modern "Pethuk Roso" .

Campursari ini bersedia dipanggil atau diundang untuk menghibur, bilamana ada warga Surabaya yang membutuhkan untuk acara hajatan ataupun lainnya.

Demikian ungkapan Bapak H. Soeripto selaku Penasehat Campur Sari Pethuk Roso, beserta Bapak Drs. Supriyono selaku Ketua Campur Sari Pethuk Roso.
Campur Sari "Suluh Mahardika"

Campur Sari "Suluh Mahardika"




Setelah Campur Sari "Pethuk Roso" Pimp. Bpk. H. Soeripto Menyemarakkan Mleto, Kini dalam moment bersejarah Bersih Desa dan memperingati Hari Kartini tepatnya tanggal 22-23 April 2011 kembali Mleto-Sukolilo dibuat bangga dan bahagia atas penampilan spektakuler Campur Sari "Suluh Mahardika" Pimp. Bpk. Ir. Totok.
Dalam moment yang sama juga di adakan sebuah acara Pengajian Akbar yang dihadiri oleh Bapak dan Ibu Lurah Klampis Ngasem beserta Bapak Camat Sukolilo.
Semoga warga Mleto-Sukolilo semakin maju,makmur dan sejahtera dengan diselenggarakannya acara tersebut. Amin ...



Sinden muda Suluh Mahardika

Bpk. Lakoli - Lurah Klampisngasem

Bpk. Fikser - Camat Sukolilo

Setelah Campursari Pethuk Roso di jalankan oleh personil yang berusia tua, maka yang mudapun tak mau ketinggalan untuk melestarikan budaya bangsa tersebut dan dibentuklah "Suluh Mahardika" yang beranggotakan pemuda/remaja.

Namun demikian dari kedua campursari yang berada dalam satu wilayah tersebut bukan berarti adanya suatu persaingan yang tidak sehat atau adanya suatu perpecahan, namun justru sebaliknya yang saling isi dan saling berbagi untuk satu visi satu misi, melestarikan budaya bangsa.

Suluh Mahardika-pun juga "siap" bilamana diundang untuk menghibur dan menyemarakkan sebuah acara baik didalam Kota Surabaya maupun diluar Kota Surabaya.

------------------------------------------------"bangganya daku jadi warga sukolilo-surabaya"